Persaudaraan Manusia atau P. Manusiawi


 

Persaudaraan Manusia atau Persaudaraan Manusiawi

[Kotbah Misa Ultah II Dokumen Abu Dhabi]


Pengantar

            Mengikuti konten-konten Youtube terlebih kalau tentang agama, kalau membaca –komentar-komentar, sulit sekali menemukan suasana damai, yang ada maki-memaki. Konten itu jelas bukan hanya demi popularitas atau uang tetapi ungkapan atau ekpresi diri dan iman yang dihayatinya. Ketika aku membaca bahwa agamaku dijelek-jelekkan, lalu aku berjumpa dengan orang yang seagama dengan yang menjelek-jelekkan agamaku, tidak mungkin aku tersenyum kepadanya. Kerenggangan relasi antar pemeluk agama itu merebak. Karena karena banyak orang tidak faham agamanya puny agama orang lain, tetapi berusaha terjun di dalamnya. Tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk memaki/membenci. Bahwa sda penganut agama yang memaki ya, tetapi tidak lebih banyak, ada ekstrimis dan teroris tetapi tidak lebih kuat, kelompoknya sendiri menentangnya. Indonesia saat ini, puji Tuhan, sedang memasuki tahap baru. Bangsa kita sedang bergerak merajut relasi antar-agama yang lebih baik dengan terpilihnya Gus Yaqud menjadi menteri agama dan dengan adanya SK tiga menteri tentang pakaian agama di sekolah negeri dan yang lain-lain akan segera menyusul, semoga. Dan apa andil kita sebagai kaum muda untuk menciptakan persaudaraan? Hal ini tepat kita pikirkan pada ulang tahun kedua Dokumen Abu Dhabi ini.

 Yesus Menyembuhkan Penyakit

Dalam Injil tadi dikisahkan, Yesus menyembuhkan banyak orang, namun kemudian Ia pergi ke tempat lain juga untuk melakukan yang sama untuk orang yang lebih banyak. Ia selalu bergerak menyembuhkan dan mewartakan Injil. Dengan kedua tindakan ini orang merasa bahagia di dunia (karena penyembuhan) dan di surga kelak karena pewartaan. Itulah Yesus, Ia mau semua orang tanpa kecuali mengalami kesembuhan dan kegembiraan dan kelak di surga mengalami persaudaraan kekal di surga. Misi Yesus adalah menyembuhkan dan menyelamatkan semua orang tanpa kecuali. Maka Ia pergi ke mana saja dan mencari sebanyak mungkin orang. Kini, pencarian itu diberikan kepada Gereja-nya, kepada kita tanpa kecuali untuk melanjutkannya. Ia memerintahkan agar kita pergi sampai ke ujung bumi dan berjanji akan menemani kita sampai akhir zaman.

 

Penyakit dunia Sekarang

Bila mau menghitung-hitung penyakit dunia yang paling parah sekarang ini selain Covid-19 menurut Dok. AD ini adalah hilangnya kepekaan hati nurani manusia (kurang merasa ada Tuhan penyelenggara), menjauhkan diri dari nilai-nilai agama (justru perselisihan agama yang terbesar di dunia ini), kemunduran moral (hormat dan sopan-santun), individualisme yang dominan (urus urusanmu), filosofi materialistis yang mendewakan pribadi manusia (lebih ngefek pada hidupnya idolanya seorang artis Korsel daripada memiliki Yesus), membuat nilai-nilai duniawi dan materiil sebagai pengganti prinsip-prinsip paling tinggi dan transendental (jujur lebih banyak waktu kita mencek viewer dan like konten kita daripada waktu bermenung) [17]. Kembali kepada kurangnya kepekaan hati nurani tadi, saya yakin Covid-19 tidak merebak seluas sekarang andaikata sejak awal manusia lebih peka terhadapnya semisal menjalankan prokes yang diaturkan. Andai kita lebih menjunjung nilai-nilai spirit keagamaan semisal selalu percaya dan berharap “anti body” akan lebih kuat, covid-19 akan dilihat sebagai proses yang harus dilalui dengan tabah.

Penyakit lain sekarang adalah sejalan dengan semakin modern/canggihnya bidang- bidang kehidupan, ada pelemahan nilai-nilai dan tanggung jawab spiritual. Orang semain terseret jauh dari hal-hal rohani. Cek saja IG danYoutubemu berapa persen IG dan channel keagamaan yang kamu ikuti? Tanpa kita sadari perlahan-lahan hal ini membuat orang banyak frustrasi, keterasingan, keputusasaan yang membuat banyak orang jatuh pada ekstrimisme (18). Krisis politik, ketimpangan ekonomi, ketidak adilan, isu rasis (yang kita alami langsung dan beritanya kita dapat dari medsos) juga membuat orang menjadi korban dalam banyak bentuk, termasuk menjadi marah, apatis dan ada yang gila. Pribadi tidak menemukan damai dalam hidupnya, dalam dirinya dan dalam kebersamaan. Orang mempersalahkan sesama. Menganggap bahwa karena andil sesama aku menderita.

 Keterpecahan Persaudaran

Hal-hal inilah sebenarnya yang mencabik-cabik kebersamaan dan persaudaraan manusia di dunia. Sebenarnya persaudaraan itu ada pada setiap manusia. Satu keluarga normalnya kompak dan saling menolong dengan spontan dan alamiah Karena dia saudaraku ada kewajiban dalam diri, ada panggilan darah untuk bertanggungjawab atasnya. Suatu perasaan yang lahir bersama kita dari kandungan ibu. Refleksi kita adalah mengapa rasa persaudaraan itu sangat terbatas hanya kepada keluarga kita saja? Kenapa hanya segelintir orang yang sanggup menganggap di luar keluarganya, di luar sukunya, di luar agamannya, sebagai saudara? Memperluas persaudaraan itu, bahkan untuk semua orang, itulah yang dituntut dari kita. Bagaimana caranya agar persaudaraan manusia dapat terwujud di dunia ini?

 Merajut Persaudaraan

·       Mengakui Tuhan sebagai Tuhan yang satu dan sama untuk semua orang dan mengakui manusia lain sebagai ciptaan yang dipanggil Tuhan untuk memberikan sumbangan demi terwujudnya persaudaraan dan damai.

·       Beriman benar artinya percaya kepada Allah yang mengundang semua laki-laki dan perempuan untuk percaya bahwa semua manusia tergantung kepada Allah.

·       Agama jangan digunakan sebagai senjata untuk menghasut kepada kebencian, kekerasan, ekstrimisme dan fanatisme buta. KARENA Allah tidak menciptakan manusia untuk saling membunuh atau saling bertarung, atau disiksa atau dihina dalam situasi hidup mereka. Allah tidak mau nama-Nya digunakan untuk meneror orang. [24]

·       Yakin teguh banwa ajaran otentik agama-agama mengundang kita untuk tetap berakar pada nilai-nilai perdamaian, mempertahankan nilai-nilai saling pengertian, persaudaraan manusia dan koeksistensi yang harmonis; untuk menegakkan kembali hikmat keadilan, dan cinta. Jangan ada pransangka bahwa agama lain itu mengajarkan rusuh.

·       Generasi muda harus kembali sadar iman, maka akan patuh pada nilai-nilai moral dan ajaran agama yang tulus. Dengan cara ini kecenderungan yang individualistis, egois, saling menentang, radikalisme dan ekstrimisme buta dalam segala bentuk dan ungkapan perlahan bisa teratasi. [22]

·       Keluarga sebagai pangkal dasar masyarakat dan kemanusiaan, sekolah pertama dan utama bagi siapapun seharusnya membesarkan dan mendidik anak-anak dengan moral yang kuat dan mengajarkan persaudaraan yang lebih luas bukan hanya kakak dan adikku saja. [21].

Persaudaraan Manusia - Menjadi Saudara untuk Semua

            Demikian Dokumen ini memanggil kita semua untuk menjadi perajin perdamaian dan promotor persaudaraan agar persaudaraan manusia terjadi di dunia ini. Santo Fransiskus adalah inpirasi bagi Paus Fransiskus. Santo Fransiskus adalah memperlakukan dan menjadi saudara untuk semua bukan hanya manusia. Mottonya dan para fransiskan adalah be brother for all. Pada Akhir Dokumen Fratelli Tutti Paus menyebut nama Beato Carles Foucoul yang mendedikasikan hidupnya untuk bersama orang miskin muslim yang ada di padang sahara. Dia mau hanya menjadi saudara bagai orang yang sama sekali asing baginya.

            Dokumen ini memanggil semua kita untuk menjadi saudara bagi semua tanpa pandang SARA (suku, agama, ras dan antar golongan). Di Medan ini apa yang bisa kita lakukan? Sebagai pribadi ayolah mulai dengan membiasakan diri dengan kata persaudraan dan perilaku bersaudara kepada sesama. Agama berbeda jangan pernah lagi menjadi penghalang. Jika ada selama ini penghalang-penghalang bahkan truma tertentu saatnya menyingkirkannya.

            Jika ada kelompok-kelompok yang bergerak di bidang perdamaian atau persaudaraan baik jika kita memberi diri di sana. Di Komkep KAM ada INA yang membutuhkan orang-orang yang mau bergerak demi perdamaian. Saya juga di JPIC Kapusin Medan sedang juga berpikir membentuk sekelompok orang penggerak perdamaian lintas agama demi perdamaian dan persaudaraan manusia. Kiranya banyak hal yang bisa dilakukan.

 Penutup

Pernah seorang pastor diundang temannya ustadz merayakani idul fitri di rumahnya. Di tengah kebersamaan itu, si Pastor berkata, “Pak Ustadz, saya tidak yakin jika Tuhan menghendaki kamu menderita lapar selamat 30 hari” sambil tersenyum. Si Ustadz sedikit berpikir kemudian membalasnya, “ya bisa jadi ya. Tetapi Pastor, saya tidak yakin jika Tuhan menghendaki menderita sendiri tanpa wanita selama hidupmu”. Mereka tertawa bersama. Bisa berlelucon dan bahkan saling mengejek pastilah karena sudah akrab dan bersaudara. Semoga kita menjadi saudara untuk semua.  Be brother for All. AMIN

 Sdr. Alexander Silaen OFM Cap

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA, SESAT?

DI MANA-MANA ADA DAMAI