DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA, SESAT?
DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA, SESAT?
Usaha Dialog antar-agama masih sesuatu yang gamang bagi kebanyakan orang; baik atau tidak sih sebenarnya untuk dilakukan, takutnya kontra produktif; sejauh mana sih bisa dilakukan takutnya menyentuh ajaran iman dan bentrok atau sebaliknya terjadi sinkretis; siapa sih pelakunya, sebaiknya para petinggi agama sajalah, kalau awam terlalu beresiko; dll. Tentu saja ada prinsip-prinsip, syarat-syarat, bentuk-bentuk, maksud dan tujuan, serta pelaku-pelaku dialog. Semua itu harus difahami. Sebelum itu, mesti ada kesadaran akan kebenaran bahwa di mana ada keragaman atau perbedaan di situ harus ada dialog kebersamaan demi keharmonisan. Dengan adanya beberapa agama, dengan sendirinya mengandaikan dialog antar-umat beragama agar terjadi harmoni dan bukan chaos. Dialog tentu saja tidak bertujuan membandingkan ajaran mana terbaik atau mencampur-adukkan ajaran. Dialog itu untuk saling memperkuat pemahaman. Dengan berdialog umat antar-agama itu saling memahami satu sama lain, dengan demikian akan saling menghormati. Pada situasi kondusif seperti ini, mereka bisa bersama melakukan sesuatu demi kebaikan bersama; mengembangkan hal-hal positip yang ada atau mencari solusi atas hal-hal tidak baik yang sedang terjadi. Misalnya membuat komitmen bersama untuk memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara atau semua agama bergandeng tangan memberantas penyakit sosial seperti narkoba.
Sikap Gereja Katolik
Kita yakin setiap agama mempunyai sikap dan usaha terhadap dialog antar-umat beragama. Bagaimana sikap Gereja Katolik Roma? Sikap itu dapat ditemukan dalam berbagai dokumen dan juga anjuran-anjuran dari para pemimpin Gereja. Gereja Katolik sangat menyadari pentingnya menjalin hubungan yang baik dengan semua agama di dunia ini. Bahkan jika pun umat manusia makin menyatu, Gereja secara lebih cermat mempertimbangkan hubungan-hubungan yang dapat dilakukan. Dalam Dokumen Konsili Vatikan II dimuat sikap resmi Gereja dan selama ini menjadi acuan untuk mengadakan dialog antar-umat:
1. Gereja tidak menolak apapun yang benar dan Kudus dalam agama-agama lain (NA 1). Semua agama memiliki nilai-nilai yang benar dan kudus dan menyebarkan itu. Kedua nilai itu berasal dari Tuhan sendiri yang dianugerahkan demi kebaikan umat beragama tersebut dan manusia lain di sekitarnya.
2. Gereja menghormati ajaran-ajaran agama lain yang dalam banyak hal berbeda dengan ajaran gereja sendiri, tetapi sering pula memancarkan sinar kebenaran, yang menyinari setiap orang (NA 2). Setiap ajaran agama memiliki perbedaan dan tingkat kebenaran yang berbeda jika diukur dari kebenaran absolut yakni Tuhan sendiri. Tetapi selain kebenaran itu sendiri Gereja mengajak umatnya untuk menghormati pancaran siniar kebenaran dalam ajaran agama lain. Sekecil apapun sinar itu, yang bisa mencerahi orang untuk lebih baik dan mengenal Tuhan harus dihormati. Jika puasa membuat umat agama lebih baik, walau bentuk puasanya berbeda dengan agamaku, saya harus menaruh hormat atasnya.
3. Tidak berhenti di situ, Gereja Katolik mengajak umatnya mengakui, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai rohani, moral dan sosial-budaya umat beragama lain (NA 2). Kendatipun ajaran agamaku memiliki nilai rohani, moral dan sosial-budaya lebih tinggi daripada agama lain (menurut penghayatanku), namun aku harus membantu umat itu mengembangkan nilai-nilai mereka, tidak mengatakan agar beralih dari nilai yang dimilikinnya tadi. Dalam rangka mengembangkan nilai-nilai mereka tadilah maka perlu melakukan dialog dengan mereka. Di sana harta kekayaan yang mereka terima dari Tuhan itu kita tampung, lalu menjelaskan serta menjernihkannya dalam Terang Injil. (AG 11).
4. Hal lebih jauh dikatakan Gereja, umatnya diajak untuk menggali apa yang serba benar dan baik dalam agama-agama lain, namun menolak kesesatan-kesesatan (OT 16).
Agar bisa melakukan semua ini, Umat Kristen harus mengenal dengan baik tradisi-tradisi keagamaan yang ada di sekitarnya (AG 11).
Kita pantas bertanya, “Apakah tidak terlalu jauh langkah-langkah yang diaturkan oleh Gereja ini, sampai harus menggali apa yang serba benar dan baik dalam agama-agama lain?” Dari sisi lain apakah agama lain mengizinkan Gereja Katolik masuk sedalam itu. Bagaimanapun ketika kita mengetahui dan mengatakan kebenaran dan kebaikan seseorang, dia pasti senang. Bisa dibayangkan damainya hatinya. Sama dengan agama, jika kita menemukan dan mengatakan yang benar dan baik tentang agama mereka, pastilah mereka senang dan gembira. Mereka merasa dihormati. Mereka pun akan semakin terbuka kepada kebenaran dan kebaikan mereka sendiri. Sesmestinya, mereka akan membalas kebaikan yang mereka terima dengan kebaikan. Dengan demikianlah dialog dan damai akan tercipta.
Ajakan
Bagaimamapun demi terjadinya damai dalam kehidupan bersama, dialog antar-umat beragama harus digalakkan. Gereja harus setia melakukannya. Sang khalik menghendaki makhluknya tersenyum bersama, walau suku, agama dan ras mereka berbeda. Tuhan menciptakan perbedaan untuk saling memperkaya.
Salam damai bagimu!
Sdr. Alexander Silaen OFM Cap
Bahan Bacaan: Dokumen Konsili Vatikan II
Foto: arif afandi/ngopibareng.id

Komentar
Posting Komentar