DI MANA-MANA ADA DAMAI

 

DI MANA-MANA ADA DAMAI

Setiap orang menghendaki Damai. Semua agama memperjuangkan damai. Undang-undang setiap negara menerapkan damai. Namun dunia tidak kunjung damai. Jelas alasannya adalah karena tidak banyak orang menjadi pelaku perdamaian. Demikian kenyataannya orang menghendaki damai tetapi tidak memperjuangkannya. Berharap damai itu datang begitu saja. Mana mungkin. Jika menelusuri sampai ke akarnya mengapa damai tidak kunjung hadir pastilah akibat dari dosa asal yakni kecenderungan manusia untuk merusak damai dan kebaikan atau pengaruh kekuatan lain yang anti damai.

Jika kita bertanya kepada tiap-tiap orang definis damai, tentu saja dia akan memberikan rumusan berdasarkan pemahamannya. Mungkin sekali akan sungguh berbeda satu sama lain tetapi esensinya kurang lebih akan sama. Sama saja halnya dengan agama-agama. Setiap agama memiliki faham dan rumusan tentang damai, berbeda tetapi semangatnya akan sama saja. Mari kita kita llihat.

Hindu. Dalam agama ini, damai disebut dengan shanti. Setiap mengakhiri kegiatan ataupun sembahyang umat Hindu mengucapkan “om shanti, shanti om” yang artinya semoga damai di dunia dan diakhirat dan damai selalu. Luar biasa, setiap pekerjaan dan sembahyang mereka ditujukan demi damai di dunia dan diakhirat.

Buddha. Menurut agama Budha damai berarti aman, tenteram, tenang, tidak bermusuhan. Orang yang damai atau tenang ialah mereka yang telah sanggup memadamkan nafsu keinginannya, tidak memiliki kemarahan, ketakutan, kesombongan, tidak memiliki kerinduan masa lampau dan masa depan, tidak tamak atau iri hati, tidak kecanduan kenikmatan, memiliki keyakinan kuat, mensyukuri apa yang dimiliki, pikirannya seimbang, waspada terkendali dan tidak terikat pada harta benda. Jelaslah bahwa bumi akan damai jika orang-orang memiliki sifat-sifat di atas. Jangankan semua, satu sajapun cukup membuat damai misalnya “sanggup memadamkan nafsu keinginan”.

Khonghucu. Menurut agama ini damai adalah keadaan di mana kebenaran ditegakkan, kesusilaan dijalankan, keadilan diterapkan, kewajiban terlaksana tanpa dipaksakan dengan hukum. Keadaan seperti ini dalam lingkup kecil adalah damai di hati diri pribadi dan keluarga, dan dalam lingkup besar adalah damai dalam negara atau dunia. Benar sekali, jika kebenaran dan keadilan berjalan bukan karena paksaan damai terjadi.

Kristen. Bagi orang kristen “damai” itu berarti “syalom” dalam bahasa Ibrani. Ia memiliki arti yang sangat luas, misalnya selamat, tidak kuatir, kemujuran, kesejahteraan, damai, tenteram dll. Damai ini diperoleh seseorang jika terlebih dahulu hubungan dengan Tuhan baik yakni manusia menyembah Tuhan dan meninggalkan dosa-dosa. Demi penghapusan dosa-dosa manusia, Tuhan sendiri mengutus Yesus Puteranya menjadi juru selamat atas dosa itu. Orang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan penyelamatnya, dosanya akan dihapuskan dan iapun akan merasakan damai dari Tuhan.

Islam. Damai menurut ajaran Islam tercermin dalam kata “Islam” itu sendiri yang berarti “damai” dan penyerahan diri kepada Tuhan secara utuh. Di mana ada Islam semestinya di situ ada damai karena di situ ada penyerahan diri kepada kehendak Tuhan. Dan Tuhan adalah Damai.

Menarik konsep damai agama-agama ini. Masing-masing memiliki kedalaman dan keluasan tersendiri. Namun:

-       Konsep itu tidak ada yang bertentangan, kendati berbeda.

-       Jika masing-masing agama menerapkann konsepnya para penganutnya tetap tidak akan saling sikut satu sama lain, malah damai makin cepat terwujud.

-    Seandainya satu konsep saja pun dijalankan secara bersama-sama, damai akan tetap terjadi.

Lalu apa yang dapat kita lakukan? Konsep damai tidak perlu diperdebatkan, mana yang terbaik, karena sudah pasti akan membawa kepada damai. Bukan konsep damai yang terbaik yang menjadi solusi. Tetapi sangat sedikit orang yang menjadi pelaku konsep, entah konsep damai yang manapun itu. Jadi saatnya melakukan. Baik pribadi, agama dan pemerintah harus mempraktekkan damai. Damai bukan untuk dibahas tetapi untuk dipraktekkan. Semoga Damai Tuhan besertamu

Sdr. Alexander Silaen OFM Cap


Bacaan utama: Ahmad Rivai Harahap (ed), Ensiklopedi Praktis Kerukunan Umat Beragama, Perdana Publishing, Medan, 2012.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA, SESAT?