“AGAMA TERORIS”

 

 

“AGAMA TERORIS”

 

Ada orang mengatakan bahwa ada agama menginspirasi teroris, atau menggerakkan teroris, atau bahkan menganggap agama itu sendiri teroris. Alasannya adalah karena si teroris menyatakan diri beragama, taat menjalankan perintah dan larangan agama, membela agama dan menyeruan nama Allahnya saat melakukan aksi terornya. Namun apakah memang benar si teroris sungguh beragama dan beriman, dan berbuat sesuai dengan ajaran hakiki agama yang dianut dan dibelanya itu, atau ia hanya berkedok agama saja? Apakah sebenarnya ada agama yang mengajarkan teror? Kalau ada, pasti agama itu mengajarkan untuk tidak meneror yang seagama dengannya. Kenyataannya si teroris meneror juga mereka yang “seagama” dengannya. Jangankan agama, kelompok teroris juga juga tidak akan mengizinkan anggota meneror anggota lain. Tidak ada juga suatu agama yang mengakui bahwa agama mereka agama teroris. Mungkin teroris sendiri yang mengakui agamanya agama teroris, namanya saja teroris. Jika ada satu orang umat mengatakan bahwa teroris memiliki agama mungkin sekali dia diproses hukum, dianggap salah. Lebih benar mengatakan tidak ada agama teroris atau tidak ada agama yang berkaitan langsung dengan teroris. Ada benar bahwa teroris membonceng atau berbaju agama. Teroris bukan atas nama agama tapi mengatasnamakan agama.

Di dalam Dokumen Fratelli Tutti, Paus Fransiskus Pemimpin tertinggi Gereja Katolik mengatakan, “kekerasan tidak mempunyai dasar dalam keyakinan fundamental agama-agama kita, namun hanya dalam penyimpangan atasnya.” (282) Setiap agama mengajarkan sembah bakti yang tulus serta rendah hati kepada Tuhan. Buah sembah bakti tidak dalam diskriminasi, kebencian dan kekerasan, melainkan dalam penghargaan akan kesucian hidup, penghargaan akan martabat serta kebebasan, komitmen kasih akan kesejahteraan semua.”(280) Fundamental agama-agama adalah sembah bakti kepada Tuhan.

Terorisme yang menyebabkan kepanikan, kegentaran dan pesimisme tidak terkait dengan agama, namun para teroris memperalat agama. Hal ini disebabkan oleh akumulasi penafsiran-penafsiran teks-teks keagamaan serta kebijakan yang terkait dengan kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, penindasan serta keangkuhan. Hal yang harus dilakukan untuk menghentikan teror adalah menghentikan dukungan kepada gerakan-gerakan teroris yang disokong dengan pembiayaan, penyediaan senjata serta strategi, dan dengan mencoba membenarkan gerakan-gerakan tersebut, bahkan dengan menggunakan media. Itu semua musti dipandang sebagai kejahatan internasional yang mengancam keamanan dan perdamaian dunia. Terorisme dalam segala bentuk serta pewujudannya tersebut harus dikutuk”.(281) Terorisme sangatlah tercela dan mengancam kehidupan. Mereka tidak mengasihi maka mereka tidak mengenal Tuhan. Karena “Sungguh, ‘barangsiapa tidak mengasihi, dia tidak mengenal Tuhan, sebab Tuhan adalah kasih’” (1 Yoh 4:8).

Agama-agama percaya dan mengajarkan makna sakral kehidupan manusia. Artinya hal itu membuat manusia “mengenali nilai-nilai fundamental kemanusiaan bersama, dan nilai-nilai ini menyanggupkan bahkan mengharuskan manusia bekerjasama, membangun dan berdialog, memaafkan dan tumbuh; selain itu memungkinkan suara-suara yang berbeda bersatu untuk menciptakan suatu melodi yang agung dan indah, bukan teriakan fanatik kebencian”.(bdk. 282)

Sejalan dengan Paus, sahabatnya imam besar Ahmad Al-Tayyeb berkata, “kami dengan tegas (menyatakan) bahwa agama-agama jangan pernah memicu perang, sikap-sikap kebencian, permusuhan dan ekstremisme, juga tidak mengobarkan kekerasan atau pertumpahan darah. Realitas tragis tersebut merupakan konsekuensi dari penyimpangan ajaran-ajaran agama. Itu merupakan hasil dari manipulasi politik akan agama dan dari penafsiran yang dibuat oleh kelompok-kelompok keagamaan yang, dalam perjalanan sejarah, mengambil keuntungan dari kekuatan sentimen keagamaan dalam hati orang. ... Tuhan yang Mahakuasa tidak perlu dibela oleh siapapun dan tidak ingin nama-Nya digunakan untuk meneror orang”.

Kedua bersahabat dan perajin perdamaian ini yakin bahwa akar totalitarianisme modern termasuk terorisme ditemukan karena penyangkalan martabat transendens manusia yakni manusia sebagai gambaran yang tampak dari Tuhan yang tak tampak. Maka secara kodrat manusia memiliki hak-hak yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun - baik itu individu, kelompok, kelas, bangsa atau negara. Bahkan kelompok mayoritas tidak boleh melanggar hak-hak tersebut, dengan melawan kelompok minoritas”. (262) Tuhan memberikan kepada setiap manusia (tanpa kecuali) hak yang tidak boleh dilanggar. Hak itu mutlak dihormati agar hidup damai, jika sebaliknya hidup kacau. Jika terorisme tidak menghormati martabat transenden manusia maka sebenarnya terorisme tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal Tuhan berarti tidak beragama secara benar.

Jika DAMAI merupakan cita-cita dan perjuangan saudara, kedua tokoh ini (Paus dan Imam) menyuarakan harapan kita juga. Tidak ada tokoh yang berkehendak baik dan pencinta damai mengatakan agama berkaitan dengan terorisme. Ada banyak tokoh yang mengatakan tegas membasmi terorisme tapi tidak mengatakan membasmi agama yang “diikuti” si teroris. Jika ada seseorang mengatakan bahwa teroris memiliki agama itu dalam artian memperalat agama.

Paus Fransiskus dan Ahmad Al-Tayyeb lebih beriman dan beragama daripada kita. Mereka tidak keliru memahami Iman mereka. Mereka juga tidak munafik dengan menutupi aib agama mereka karena "menggendong" teroris. Mereka juga tidak mau cari tenar dengan pendapat dan kedirian mulia mereka. Tuhan menghadirkan agama-agama di dunia, agar dunia damai. Yang pasti pengacau damai akan selalu ada. Bagi kita yang berkehendak baik, pikirkan dan perjuangkan damai apapun caranya karena Tuhan mau kita Damai. “Damai sejahtera bagimu”. Amin.

Sdr. Alexander Silaen OFM Cap

Bahan Bacaan: Ensiklik Fratelli Tutti dari Bapa Suci Fransiskus Tentang Persaudaraan Dan Persahabatan Sosial

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA, SESAT?

DI MANA-MANA ADA DAMAI